Senin, 03 Januari 2011

taman mini indonesia indah

Taman Mini Indonesia Indah (TMII) merupakan suatu kawasan wisata budaya di Jakarta. Terletak pada koordinat 6°18′6.8″LS,106°53′47.2″BT, di tengah-tengah TMII terdapat sebuah danau yang menggambarkan kepulauan Indonesia yang besar dalam bentuknya yang kecil.

Sejarah

Gagasan pembangunan suatu miniatur yang memuat kelengkapan Indonesia dengan segala isinya ini dicetuskan oleh Ibu Negara, Siti Hartinah, yang lebih dikenal dengan sebutan Ibu Tien Soeharto. Gagasan ini tercetus pada suatu pertemuan di Jalan Cendana no. 8 Jakarta pada tanggal 13 Maret 1970. Melalui miniatur ini diharapkan dapat membangkitkan rasa bangga dan rasa cinta tanah air pada seluruh bangsa Indonesia. Maka dimulailah suatu proyek yang disebut Proyek Miniatur Indonesia "Indonesia Indah", yang dilaksanakan oleh Yayasan Harapan Kita.
TMII mulai dibangun tahun 1972 dan diresmikan pada tanggal 20 April 1975. Berbagai aspek kekayaan alam dan budaya Indonesia sampai pemanfaatan teknologi modern diperagakan di areal seluas 150 hektar.

Logo dan maskot

TMII memiliki logo yang pada intinya terdiri atas huruf TMII, Singkatan dari "Taman Mini Indonesia Indah". Sedangkan maskotnya berupa tokoh wayang Hanoman yang dinamakan NITRA (Anjani Putra). Maskot Taman Mini "Indonesia Indah" ini diresmikan penggunaannya oleh Ibu Tien Soeharto, bertepatan dengan dwi windu usia TMII, pada tahun 1991.

Anjungan daerah

Anjungan Kalimantan Selatan
Di Indonesia, hampir setiap suku bangsa memiliki bentuk dan corak bangunan yang berbeda, bahkan tidak jarang satu suku bangsa memiliki lebih dari satu jenis bangunan tradisional. Bangunan atau arsitektur tradisional yang mereka buat selalu dilatarbetakangi oleh kondisi lingkungan dan kebudayaan yang dimiliki. Di TMII, gambaran tersebut diwujudkan melalui Anjungan Daerah, yang mewakili suku-suku bangsa yang berada di 33 propinsi Indonesia.

Taman

Di TMII terdapat berbagai macam taman yang menunjukkan keindahan flora dan fauna Indonesia seperti taman anggrek, taman melati, kolam akuarium air tawar dan taman burung.

Museum

Museum yang ada diperuntukkan untuk memamerkan sejarah, budaya dan teknologi seperti Museum Indonesia, Museum Pusaka, Museum Transportasi, dan Pusat Peragaan IPTEK.
sumber : http://id.wikipedia.org

kota tua

”Kota tua” merupakan saksi sejarah kota Jakarta, dibalik arsitektur bangunannya yang mengagumkan menyimpan ”Misteri” akan peristiwa sejarah di masa lampau. Inilah selintas mengenai kota tua Jakarta dan sejarahnya….
Museum Wayang Gedung ini awalnya bernama Gereja Lama Belanda (De Oude Hollandsche Kerk) dibangun pada tahun 1640 M. Pada tahun 1732 M, gedung ini diperbaiki dan berganti nama menjadi Gereja Belanda Baru (De Nieuwe Hollandsche Kerk). Namun, terjadi gempa bumi pada tahun 1808 M yang menyebabkan sebagian bangunan ini hancur. Kemudian dibangun lagi pada Tahun 1912, dan dijual oleh pemerintah Hindia Belanda kepada sebuah perusahaan yang bernama Geo Wehry & Co serta dijadikan kantor hingga tahun 1934. Pada tahun 1936, kepemilikan gedung ini berpindah lagi setelah dibeli oleh sebuah Lembaga Ilmu Pengetahuan, Seni dan Budaya di Batavia milik pemerintah Belanda. Baru pada tahun 1957, gedung ini diserahkan pada Lembaga Kebudayaan Indonesia dan secara resmi dijadikan Museum Wayang pada tanggal 13 Agustus 1975.

Kalibesar
Kalibesar merupakan nama jalan di daerah Jakarta Utara. Letaknya tidak jauh dari Museum Sejarah Jakarta. Dengan berjalan kaki dari Museum Sejarah Jakarta, kita hanya membutuhkan waktu lima menit saja untuk mencapai jalan Kalibesar ini. Dulu pada abad ke-17, Jalan Kalibesar terkenal sebagai daerah pusat bisnis perdagangan yang cukup terkenal dan bergengsi. Jalan Kalibesar ini biasa disebut Grootegracht yang artinya kali besar, karena di jalan tersebut terdapat kali yang diapit jalan dan bangunan. Selain pusat bisnis perdagangan, di Jalan Kalibesar juga banyak terdapat rumah penduduk Cina. Kali itu sendiri menjadi jalur lalu lintas kapal bongkar muat barang. Hingga akhirnya pada tahun 1740, terjadi kerusuhan di Jalan Kalibesar dan banyak rumah penduduk dibakar.
Pada tahun 1870, Jalan Kalibesar dibangun kembali. Di Jalan Kalibesar terdapat bangunan berlantai dua dan berwarna merah. Nggak heran kalau bangunan ini disebut Toko Merah. Bangunan ini sangat terkenal pada zaman dulu karena pernah ditinggali oleh beberapa Gubernur Jenderal VOC. Saat ini bangunan Toko Merah masih berdiri kokoh dan digunakan sebagai perkantoran.
sumber : http://situskotatua.com

pekan raya jakarta

Pekan Raya Jakarta (PRJ) atau Jakarta Fair adalah pameran tahunan terbesar di Indonesia. Walaupun dinamai "pekan", biasanya berlangsung selama satu bulan penuh dari pertengahan Juni sampai pertengahan Juli untuk memperingati hari jadi kota Jakarta.
PRJ pertama diadakan pada tahun 1968. Sampai saat ini setiap tahun penyelenggaraannya tidak pernah terputus. Dari 1968 sampai 1991 PRJ pernah berlangsung di Taman Monumen Nasional.

[sunting] Sejarah

Jakarta Fair di bekas Bandar Udara Kemayoran
Pekan Raya Jakarta di Lapangan Monas.
Pekan Raya Jakarta (PRJ) digelar pertama kali di Kawasan Monas tanggal 5 Juni hingga 20 Juli tahun 1968 dan dibuka oleh Presiden Soeharto dengan melepas merpati pos. PRJ pertama ini disebut DF yang merupakan singkatan dari Djakarta Fair (Ejaan Lama). Lambar laun ejaan tersebut berubah menjadi Jakarta Fair yang kemudian lebih popular dengan sebutan Pekan Raya Jakarta.
Idenya muncul atau digagas pertama kali oleh Pemerintah DKI yang kala itu dipimpin oleh Gubernur Ali Sadikin atau yang lebih dikenal oleh Bang Ali pada tahun 1967. Gagasan atau ide ini, karena Pemerintah DKI waktu itu ingin membuat suatu pameran besar yang terpusat dan berlangsung dalam waktu yang lama.
Pemerintah DKI waktu itu juga ingin menyatukan berbagai "pasar malam" yang ketika itu masih menyebar di sejumlah wilayah Jakarta . Pasar Malam Gambir yang tiap tahun berlangsung di bekas Lapangan Ikada (kini kawasan Monas), juga merupakan inspirasi dari Pameran yang diklaim sebagai "Pameran Terbesar" ini.
Terinspirasi oleh Pasar Malam Gambir yang dari dulunya sudah ramai dikunjungi, Pemerintah DKI ingin membuat gebrakan dengan langsung membentuk panitia sementara yang dipercayakan kepada Kamar Dagang dan Industri (Kadin).
Panggung terbuka di arena PRJ
Agar lebih sah atau resmi, Pemerintah DKI mengeluarkan Peraturan Daerah (Perda) no. 8 tahun 1968 yang antara lain menetapkan bahwa PRJ akan menjadi agenda tetap tahunan dan diselenggarakan menjelang Hari Ulang Tahun Jakarta yang dirayakan setiap tanggal 22 Juni.
Sebuah yayasan yang diberikan nama Yayasan Penyelenggara Pameran dan Pekan Raya Jakarta juga dibentuk sebagai badan pengelola PRJ. Sesuai Perda no. 8/1968 tersebut tugas yayasan ini bukan hanya menyelenggarakan PRJ saja tetapi juga sebagai penyelenggara Arena promosi dan Hiburan Jakarta (APHJ) yang dijadwalkan berlangsung sepanjang tahun.
Syamsudin Mangan, Ketua Kadin Indonesia ketika itu dinilai berjasa dalam menyelenggarakan Pekan Raya Jakarta yang merubah wajah Pasar Malam Gambir yang kemudian terkenal dengan Djakarta Fair yang "bermutasi" menjadi Jakarta Fair atau lebih dikenal dengan Pekan Raya Jakarta. Karena kegigihan Syamsuddin Mangan Djakarta Fair mendapat dukungan dari berbagai pihak. Sayang, sebelum melihat ide dan gagasannya terwujud Syamsuddin Mangan dipanggil yang Kuasa.
PRJ 1968 atau DF 68 berlangsung mulus dan boleh dikatakan sukses. Mega perhelatan ini mampu menyedot pengunjung tidak kurang dari 1,4 juta orang. Fantastis! Acara yang digelar pun unik. Kala itu digelar pemilihan Ratu Waria. Yang ikut 151 peserta dan boleh dikatakan cukup banyak kala itu.
PRH 1969 atau DF 69 "memecahkan" rekor penyelenggaran PRJ terlama karena memakan waktu penyelenggaraan 71 hari. PRJ pada umumnya berlangsung 30 - 35 hari. Bahkan Presiden AS pada waktu itu Richard Nixon datang ke Indonesia , sempat mampir ke DF 69. Ia berhenti disebuah stan dekat Syamsuddin Mangan Plaza , sempat melambai-lambaikan tangannya ke pengunjung dan karyawan DF 69.
Penyelenggaraan PRJ atau Jakarta Fair ini, dari tahun ke tahun mulai mengalami perkembangan pengunjung dan pesertanya bertambah dan bertambah. Dari sekedar pasar malam, "bermutasi" menjadi ajang pameran Modern yang menampilkan berbagai produk. Areal yang dipakai juga bertambah. Dari hanya tujuh hektar di Kawasan Monas kini semenjak tahun 1992 dipindah ke Kawasan Kemayoran Jakarta Pusat yang menempati area seluas 44 hektar.
sumber : http://id.wikipedia.org

Minggu, 02 Januari 2011

Dampak Macet Parah, Separator Busway di Warung Buncit Berantakan

Jakarta - Kelancaran laju Bus TransJakarta di daerah Warung Buncit sedikit terganggu. Bus harus berjalan perlahan di jalan yang berbentuk cekungan tepat di putaran balik di depan Yayasan Asuhan Keluarga Yatim Piatu dan Fakir Miskin (YAKYF) atau Klinik RHC.

Pantauan detikcom, Selasa (26/10/2010) pukul 07.00 WIB separator busway di daerah tersebut banyak yang dijebol. Blok-blok beton berbentuk roti tawar berdiameter sekitar 80 x 40 cm banyak diletakkan di sisi separator yang masih utuh.

Ada 2 titik separator rusak yang terpantau di lokasi. Belum terlihat adanya petugas dari dinas terkait yang membenahi kerusakan yang  bisa membahayakan para pengguna jalan.

Separator tersebut dijebol warga tadi malam untuk dijadikan putaran balik bagi pengendara yang tak bisa menembus banjir setinggi pinggang orang dewasa di daerah langganan banjir itu. Akibat banjir, kendaraan dari Buncit ke Mampang atau pun Mampang ke Buncit, tidak bisa lewat alias stuck panjang. Sesudah jalan lancar, warga membiarkan separator rusak begitu saja.

Selain itu, sampah-sampah tanah dan plastik juga terlihat di lokasi yang sama. Warga menggunakannya untuk dijadikan pijakan kendaraan yang hendak melewati undakan separator busway.

Hujan deras telah menimbulkan genangan tinggi di banyak ruas jalan di Jakarta. Lalu lintas Warung Buncit terhenti karena di putaran balik di depan Yayasan Asuhan Keluarga Yatim Piatu dan Fakir Miskin (YAKYF) genangan air mencapai pinggang orang dewasa.

Kemacetan mulai pukul 16.00 WIB dan baru mulai mencair sekitar pukul 23.00 WIB.

(gah/nrl)
sumber : http://m.detik.com

waspadai 22 lokasi balapan liar di jakarta

Jakarta - Kondisi jalanan sepi di tengah malam, kadang-kadang 'diramaikan' oleh aksi balapan liar. Nah, buat Anda yang sering berkendara di malam hari, sebaiknya mewaspadai 22 lokasi di Jakarta yang sering digunakan arena balap liar.

Berikut lokasi yang biasa di gunakan untuk menggelar aksi balap liar , seperti dikutip dari situs Traffic Management Center (TMC) Polda Metro Jaya, Senin (21/6/2010).

Di kawasan Jakarta Pusat, ada 6 lokasi yang sering dijadikan arena balap liar yakni di Jalan Landasan Pacu, Tanah Abang, Karet, Jalan Asia Afrika, Jalan Pramuka dan Jalan Proklamasi. Di Jakarta Selatan seperti di Cipete, D'Best Fatmawati, di depan Universitas Pancasila, Tanjung Barat, PGA Lebak Bulus, Jalan Buncit Raya dan Permata Hijau.

Wilayah Jakarta Timur di depan Masjid At-Tien TMII, terowongan Kelapa Dua Wetan, Jalan Raya Cibubur depan PT CIBA-CIBI, Jalan I Gusti Ngurah Rai, Jalan Basuki Rahmat dan Jatiwarna. Di Jakarta Barat, balap liar sering terjadi di Jalan Panjang, Jalan Daan Mogot dan di depan RS Graha Medika, Kebon Jeruk.

Aksi mereka sangat meresahkan masyarakat. Bagi masyarakat yang mengetahui Lokasi balap liar diimbau untuk segera menghubungi TMC atau ke kantor Polisi terdekat.
sumber : detik news

Sabtu, 01 Januari 2011

arena road race

ARENA ROAD RACE
Luas lahan : 10 ha milik Pemerintah Kota sawahlunto
Sarana yang tersedia saat ini
Track sirkuit beraspal hotmix sepanjang 1,2 km berstandar nasional
Paddock
Lahan untuk pembangunan fasilitas penunjang lainnya
Transportasi dilalui oleh jalan utama yang ada di lokasi resort wisata
Rencana Pengembangan
Pengelola professional yang mampu melaksanakan event road race nasional minimal 1 kali setahun dan local minimal 5 kali setahun serta memberikan konstribusi kepada pemerintah daerah
Penambahan fasilitas tribune permanent untuk tanu VIP
Pembanguna kantor pengelola
Kafetaria dan sarana penunjang lainnya serta lapangan parkir.

Terakhir dalam bulan april tahun 2010 telah 2 kali dilakukan event Road Race ini, mulai dari Kejurda dan tingkat Kejurnas yang diikuti oleh pembalap-pembalap Nasional.
 sumber : http://www.sawahlunto.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=82&Itemid=143

Timnas Merah Putih setelah Gagal Raih Trofi AFF 2010

TANGIS para pemain Indonesia pecah begitu wasit asal Australia Peter Daniel Green meniup peluit panjang tanda pertandingan berakhir. Saat para pemain Malaysia bersujud syukur atas gelar juara Piala AFF yang diraih, beberapa penggawa skuad Merah Putih bersujud lemas. Kecewa. Sedih. Merasa bersalah kepada masyarakat Indonesia yang sudah habis-habisan mendukung.

Wajah para pemain makin terlihat memelas saat di depan hidung mereka para pemain Malaysia bersorak-sorai mengangkat trofi juara. Saat skuad Harimau Malaya, julukan timnas Malaysia, masih merayakan kemenangan di atas podium, satu per satu pemain Indonesia beringsut meninggalkan lapangan menuju ruang ganti.

Kepala mereka tertunduk. Mata mereka sembap. Tidak satu pun kata keluar dari mulut mereka. Padahal, dalam lima laga home sebelumnya, mata para pemain selalu berbinar-binar setiap melewati jalan menuju ruang ganti. Bibir asisten pelatih Wolfgang Pikal bahkan masih terlihat bergetar. Hanya pelatih Alfred Riedl yang tetap terlihat "dingin", gaya khasnya.

Suasana beku tersebut belum berubah ketika tim meninggalkan Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) pukul 22.15. Hal itu terjadi tak lain karena ribuan suporter Merah Putih ternyata masih setia menanti dan mendukung penuh para pahlawan timnas tersebut.

Ribuan suporter itu sengaja menunggu bus PSSI yang mengangkut para pemain karena ingin tetap memberikan semangat kepada Firman Utina dkk. Di dalam bus yang berjalan lambat, skuad timnas hanya bisa melambaikan tangan kepada para pendukung fanatik tersebut. Di sepanjang jalan menuju Hotel Sultan tempat mereka menginap, massa di kanan kiri jalan juga tak henti-henti mengelukan nama para pemain. Skuad timnas pun tampak terharu melihat antusias para penggila bola (gibol) tersebut.

Situasi itu masih berlanjut kemarin (30/12). Pukul 09.00, tim resmi dibubarkan. Acara seremonial terakhir sebelum para pemain kembali ke klub masing-masing berupa jamuan makan siang oleh sponsor apparel timnas di sebuah restoran di Mal Senayan City, Jakarta. Seluruh pemain dan ofisial tampak hadir dalam acara yang tertutup untuk media itu.

Mengetahui ada skuad timnas di mal tersebut, para pengunjung pun akhirnya "menyerbu" ke tempat acara makan siang para pemain itu. Para pemain yang tampak rileks terlihat antusias menerima permintaan para penggemar untuk berfoto bersama atau permintaan tanda tangan. Irfan Bachdim, Christian Gonzales, dan Firman Utina menjadi pemain yang paling banyak diburu fans.

Begitu acara makan siang selesai dan timnas hendak kembali ke hotel, sekitar pukul 14.00, suasana semakin heboh saat Firman Utina dkk keluar mal dan menuju bus yang mereka tumpangi. Bukan hanya pengunjung mal yang menyerbu, warga yang kebetulan lewat di dekat Senayan City ikut merangsek ingin melihat lebih dekat pemain pujaan mereka. Akibatnya, jalan di depan pusat perbelanjaan elite tersebut macet beberapa saat karena banyak kendaraan yang berhenti mendadak.

Para penggemar yang mayoritas perempuan itu berteriak-teriak histeris dan berusaha mendekat ke arah para pemain. Beruntung, petugas keamanan sigap sehingga mereka tidak terlalu dekat dengan pemain. Tak hanya di mal, di hotel tempat timnas menginap pun ratusan penggemar timnas Merah Putih antre ingin bertemu.
 
Timnas tiba di Hotel Sultan sekitar pukul 15.00. Begitu turun dari bus, mereka langsung diserbu penggemar. Ada yang minta foto, tanda tangan, atau sekadar berjabat tangan. Namun, kali ini pemain tidak lama melayani penggemarnya. Mereka segera naik lift menuju ke lantai kamarnya masing-masing.
 
Tetapi, para fans belum menyerah. Tahu sore kemarin tim akan check out dari hotel, mereka setia menunggu di lobi. Benar saja, sekitar satu jam kemudian satu per satu  pemain turun dengan membawa koper masing-masing. Yang turun pertama adalah Bambang Pamungkas. Dia dijemput keluraganya. Kemudian, Christian Gonzalez, Yongky Aribowo, Zulkifli Syukur, M. Robbi, dan Johan Juansyah, lalu diikuti pemain yang lain.
 
Sebelum  naik mobil atau taksi yang dipesan, para pemain menyempatkan diri berfoto atau melayani permintaan tanda tangan penggemar. "Saya ingin istirahat dulu sebelum kembali bergabung dengan klub (Sriwijaya FC). Saya sudah kangen keluarga," kata Firman Utina yang sudah bisa tersenyum setelah malam sebelumnya tertunduk lesu karena gagal mengeksekusi penalti.
 
"Saya bosan, sebulan terakhir tiap bangun tidur yang saya lihat wajah Bambang Pamungkas," candanya. Selama TC dan berlaga di Piala AFF, Firman memang sekamar dengan Bambang.
 
Jika para pemain check out dari hotel kemarin, tim pelatih baru keluar hari ini (31/12). Asisten pelatih Wolfgang Pikal telah menjadwalkan pulang dan menemui keluarganya di Bali. Pria berkebangsaan Austria itu akan berada Pulau Dewata hingga 5 Januari mendatang. Setelah itu, Wolf "panggilan Wolfgang" bakal terbang lagi ke Jakarta untuk menyiapkan pembentukan timnas U-23. "Saya akan istirahat di Bali. Saya akan refreshing dulu sebelum kembali bertugas untuk seleksi timnas U-23," ujarnya.
 
Pelatih kepala timnas Indonesia Alfred Riedl juga berencana berlibur ke Bali bersama istri. "Dia (Riedl) masih mencari tiket. Tanggal 2 atau tanggal 3 dia berangkat ke Bali. Kemungkinan akan mampir ke rumah saya," kata Wolf. (*/c4/ari)
sumber : JPNN.COM